Kumpulan Cerpen (Cerita Pendek) Fiksi dan Non Fiksi Indonesia Serta Informasi Menarik.

Monday, 21 November 2016

Air Putih

source : freestockphotos.biz
Seperti biasa, saya terbangun (lebih tepatnya dibangunkan oleh ibu saya) dari tidur pada sekitar pukul 5 pagi. Sebelum menuju kamar mandi untuk ritual pengambilan air wudhu, saya sempatkan untuk sejenak mampir ke dapur. Di sana biasanya saya meneguk
segelas air putih. Ada rasa nikmat luar biasa ketika saya meminum air putih pada saat seperti itu. Tenggorokan yang dialiri air putih sesaat setelah bangun tidur, terasa bagaikan tanaman yang kian lama kekeringan, tiba-tiba terguyur hujan. Atau perempuan janda yang sekian tahun ditinggal pergi suaminya, tiba-tiba bergaul dengan lelaki muda penuh wibawa yang kemudian menikahinya. Aih.
Kemudian usai menjalankan ibadah salat, kalau tidak tertidur di atas sajadah, saya biasanya segera mendidihkan air putih. Tujuannya? Yaitu untuk menyeduh kopi. Biasanya saya memilih kopi hitam dengan takaran gula yang tak sedikit. Ini sejujurnya terpengaruh oleh perkataan teman saya yang sedikit-banyak sempat saya singgung pada postingan saya mengenai Kopi ini.
Sebelum berlanjut ke cerita saya, silakan simak pula penjelasan singkat saya mengenai step-step cara menyeduh kopi hitam agar terasa lebih nikmat dan sedap di sini.
Pagi hari menikmati kopi, biasanya saya sejajarkan dengan sekaligus membaca-baca. Membaca buku, membaca artikel di media digital, atau bahkan membaca-baca blog milik teman-teman. Atau jika tidak membacai itu semua, kadang saya baca chat-chat lawas saya sama mantan. Hehehe
Tak jarang, saya juga terkadang membaca soal-soal TTS untuk kemudian soal-soal itu saya anggap sebagai clue untuk mengisi kolom-kolom yang berada di sebelah soal-soal itu. Ya benar, saya terkadang memang mengisi TTS pada jam-jam sepagi ini. Namun, yang paling sering saya lakukan usai ibadah salat Subuh seperti itu adalah, hehe, tidur, hehehe.
Sebenarnya tidur di pagi hari seperti itu tak baik. Jika telah menjadi kebiasaan, maka itu sebuah kebiasaan yang buruk. Karena kabarnya hal ini menjadikan rizki kita tidak akan kita dapatkan sebab terlebih dahulu rizki itu dipatuk ayam. Namun demikian, penulis beken bernama Pidi Baiq asal Bandung, pernah bertutur kira-kira semacam ini; “Tidak apa-apa rizki saya dipatuk ayam, toh nanti ayamnya saya yang makan.”
Wahahaha. Boleh juga ya, perkataan Aa Pidi tadi. Saking pro-nya dengan quote penulis novel berjudul “Dilan” itu, ada satu kawan saya yang bahkan tak mau tak tidur di pagi hari. Pokoknya harus tidur. Terlebih, kebetulan kawan saya itu adalah peternak ayam. Ia memiliki puluhan ribu ayam, entah yang dimanfaatkan dagingnya (Ayam potong) ataupun telurnya. Katanya, justru kebetulan kalau rizki dia dimakan ayam, kan rizki dia juga didapatnya melalui ayam. Ada-ada saja, yah.
Kembali ke air putih, saya tak tahu apakah Pidi Baiq juga memiliki kebiasaan seperti saya ini. Dan hal ini tak perlu saya cari tahu. Biar kalau kalian yang banyak nganggurnya, yang mencari tahu.
Air putih, nyatanya untuk sepagi saya telah saya perlukan sebanyak dua kali. Pertama untuk saya minum sejenak seusai bangun tidur, dan yang kedua untuk saya gunakan menyeduh kopi. Pada seharian saya menjalani aktivitas, air putih juga terus saya perlukan. Nah, di sini akan saya paparkan sedikit mengenai kegunaan air putih bagi keberlangsungan hidup saya. Namun maaf sebelumnya, saya tidak akan menuliskan manfaatnya bagi kesehatan. Karena sudah ada begitu banyak teman-teman yang menuliskan hal seperti itu.
Berikut adalah kegunaan air putih untuk keberlangsungan hidup saya:
      ·         Diminum.
Tak perlu saya jelaskan lagi karena sudah jelas bahwa saya pun membutuhkan air putih untuk saya minum.
      ·         Dididihkan untuk menyeduh kopi.
Hal ini juga tak perlu saya perpanjang-lebarkan penjelasannya karena sudah cukup dapat dipahami. Saya nyeduh kopi kalau tak pakai air putih, memang mau pakai apa?
      ·         Melarutkan obat pewarna untuk Batik.
Ini… Ini… Barangkali ini perlu saya jelaskan. Jadi, seperti pernah saya ceritakan sedikit mengenai usaha produksi Batik di tempat saya di sini, setiap hari saya memerlukan air putih bersih yang saya pergunakan untuk melarutkan bubuk obat pewarna Batik. Beberapa jenis pewarna ini ada yang memerlukan air panas dan ada pula yang cukup dengan air biasa. Intinya, air putihlah yang saya pergunakan. Dan bukan air krem, atau air kelapa. Hehehe.
      ·         Untuk mencuci Batik.
Ada dua proses sebelum Batik yang telah dibatik menggunakan canting dan diberi warna. Yaitu di-lorod, yaitu proses pelepasan lilin malam dengan mencelupkan kain Batik pada air panas. Dan mencucinya dengan air bersih. Nah, kedua proses ini saya memerlukan adanya air putih.
      ·         Menyiram tanaman.
Karena di halaman rumah saya ada beberapa jenis tanaman, maka saya pun memerlukan air untuk menjaga dan merawatnya. Biasanya pada sore hari saya melakukan penyiraman atas tanaman-tanaman ini.
      ·         Memasak mie instant.
Ah, iya. Tentu saja saya pun doyan makan makanan ini. Mie instant terkadang malah menjadi “Dewa Penolong” bagi saya yang tidak sepanjang 24 jam dapat menemukan makanan dengan mudah. Dan untuk membuatnya menjadi siap santap, saya perlu memasaknya terlebih dahulu. Maka dari inilah saya perlu air putih untuk memasaknya.
      ·         Mandi.
Meskipun ada beberapa air yang digunakan untuk mandi, seperti susu, cokelat, dan lain-lain, namun mandi dengan air putih bersih tetaplah yang utama. Terlebih bagi saya. Ya daripada susu atau cokelat dipakai buat mandi, mending saya minum sih, ya. Hahahaha. Sudah, ah.
 Demikianlah manfaat air putih bagi keberlangsungan hidup saya. Tentu tak semua hal di atas sependapat dengan kalian. Maka dari itu, silakan ditambahi atau dikoreksi atau dibuatkan tulisan lain untuk menyanggah tulisan ini.
 Sedikit, kalau tak salah, penggunaan kata “Air Putih” ini dianggap kurang tepat oleh sebagian orang. Katanya, yang tepat adalah “Air Bening”. Seingat saya, salah satu orang yang beranggapan seperti ini adalah Sujiwo Tejo. Tapi sudahlah, ya… Kan kita tak mau berdebat soal beginian di sini. Lagian, perdebatan-perdebatan kan sudah banyak kita saksikan. Maka terserah kita sendiri saja mau pakai istilah Air Putih, Air Bening, Air Netral, Air Jernih, Air Cair atau apapun asalkan saling menghormati jika ada pihak atau orang lain yang tak sama dengan kita.
 Sekian.
 Terimakasih dan,
Ayo kita tingkatkan cinta kita terhadap tanah air…….putih!^^
Share:

0 comments:

Post a Comment

Contact Us

Name

Email *

Message *