Kumpulan Cerpen (Cerita Pendek) Fiksi dan Non Fiksi Indonesia Serta Informasi Menarik.

Thursday, 24 November 2016

Nahas

Seorang lelaki setengah baya keluar dari sebuah kantor dinasnya yang berdiri sebelah utara lapangan Mataram kota Pekalongan. Lelaki itu kemudian, di depan gerbang kantor ia bekerja, berdiri mengeluarkan hape dari saku celananya. Nampak ia sedang
menelpon seseorang. Sebentar saja lalu menutup sambungan.

Usai menelpon seseorang, sesekali ia disapa oleh kawan-kawan sekantor yang melewatinya dan balik menyapa mereka. Hape di tangannya tak kembali ia masukkan ke saku celana. Ia seperti sedang membaca-baca sesuatu di sana. Menengok kotak masuk pesan, mengecheck notifikasi chat, dsb. Tapi nampaknya tak ada sesuatu yang mengharuskannya memegang lebih lama hape itu. Dimasukkanlah ia kemudian ke dalam saku celananya.

Baru saja dimasukkan, lelaki tadi mengeluarkan lagi hape dari saku celananya. Ada panggilan masuk. Ia jawab panggilan itu. Kali ini ia agak lama berbicara dengan pemilik suara di seberang. Ia bahkan sampai mengeluarkan tawanya yang cukup keras. Serta, banyak sekali ia keluarkan kata-kata umpatan di sela-sela tawanya. Asyik sekali nampaknya. Pastilah ia sedang mendengar suatu hal yang menggelikan dan mengundang tawa dari suara lawan bicaranya.

Telpon ditutup. Sisa tawanya masih belum sepenuhnya sirna. Lelaki yang masih berseragam itu menyandarkan punggungnya pada pintu gerbang bercat hijau tua. Hape di tangannya ia biarkan tergenggam oleh jari-jemari tangan kirinya. Tangan kananya ia rogohkan ke saku kemeja seragamnya dan keluarlah beserta tangan yang ini sebungkus rokok Mild. Ia comot sebatang rokok dan ia nyalakan dengan korek api cricketnya.

Hembusan asap rokok pertamanya ini ia nikmati betul. Di kepalanya sedang ada begitu banyak permasalahan. Dan orang yang terakhir tadi menelponnya, sedikit memberi pencerahan meski bukan atas permasalahan yang sedang ia hadapi. Ia kemudian nampak memejamkan matanya dan berusaha untuk tersenyum. Berhasil, ia tersenyum meski sangat kentara senyum itu terlalu dipaksakan. Saat membuka matanya, ia seakan tersadar akan sesuatu. Buru-buru ia fokus pada layar hapenya. Menulis pesan singkat.

Baru sepuluh detik pesan singkat itu terkirim, ia sudah merasa tak sabar menunggu balasan dari penerima pesan. Ia pun melakukan panggilan. Menelpon orang yang dikehendakinya.

"Kenapa lama sekali?? Saya sudah berdiri menunggu di sini setengah jam! Cepetan!" Berbeda dari ekspresi tadi saat berbicara melalui hapenya, kali ini lelaki itu seperti kesal karena supir pribadinya tak kunjung tiba.

"Maaf, Pak ini mobilnya masih di perjalanan pulang. Dari tadi pagi dibawa Mas Anto.." Supir pribadinya itu menjawab dengan nada takut.

"Kan saya punya 2 mobil di garasi!" Lelaki itu malah membentaknya sekali lagi.

"Yang satu masih di.." Belum selesai si supir menjawab, lelaki tadi malah segera memotongnya sekejap ketika teringat mobilnya yang lain sedang di bengkel. Menutup telpon. Dan seketika itu juga ia melakukan panggilan pada nomer lain. Nomer anaknya, Anto.

"Kemana saja kamu?? Cepetan pulang!" Namun kalimat ini nyatanya tak keluar. Karena si Anto terlalu takut untuk menerima telpon dari ayahnya. Ia memilih tak mengangkat panggilan masuk itu dan segera menaikkan kecepatan laju mobilnya.
source: commons.wikimedia.org

Nahasnya, Anto tak sempat sampai di rumahnya. Di jalan, saat dering-dering telpon dari ayahnya masih terngiang dari hapenya, ia mengalami kecelakaan. Bisa jadi Anto kehilangan fokus saat mengemudikan kendaraannya. Saat sedang berada di kecepatan penuh, di siang jelang sore seperti itu, ia tak mengira bahwa sebuah truck kontainer di depan, yang akan disalipnya, mendadak oleng ke kanan. Anto tak sempat mengendalikan mobilnya. Menabraklah ia pada sisi kanan truck kontainer tersebut. Anto tewas di tkp.

"Anak kurang ajar! Ditelpon tak diangkat! Sedang apa anak kurang ajar ini??" Lelaki berseragam yang masih berdiri di depan kantor dinasnya mengumpat untuk terakhir kalinya. Kemudian datanglah taxi merapat mendekatinya. Ia masuk. Pikirannya kini bertambah penuh. Ia akan memarahi anak kurang ajarnya itu sesampainya di rumah.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Contact Us

Name

Email *

Message *