Kumpulan Cerpen (Cerita Pendek) Fiksi dan Non Fiksi Indonesia Serta Informasi Menarik.

Tuesday, 22 November 2016

Naik Bus



Pernahkah kalian naik bus antar-kota? Dari mana ke manakah itu?
Kalau kalian pernah naik kendaraan umum satu ini, tentu saja kalian mempunyai pengalaman-pengalaman. Dari mulai yang biasa-biasa saja sampai yang luar biasa. Pengalaman biasa-biasa saja ini misalnya kalian berkenalan dengan orang yang duduk di jok sebelah kalian. Sedangkan pengalaman
luar biasanya misalkan kalian membantu orang lain yang hendak dicopet, dengan ketangkasan luar biasa yang kalian miliki si copet akhirnya gagal melakukan aksinya hingga kemudian ia dilempar oleh kondektur bus keluar.
Atau, ada barangkali di antara kalian yang menemukan jodoh di atas kendaraan umum berukuran besar ini? Wah kalau ada tentu saja bus menjadi barang yang begitu penuh kenangan indah bagi kalian yang pernah mengalami hal ini, ya..
Atau malah, jangan-jangan kalian adalah sopir bus? Saya akan angkat topi jika salah satu dari kalian yang membaca tulisan ini adalah seorang sopir bus. Karena saya tahu betapa seorang sopir bus adalah salah satu profesi mulia. Bagaimana tidak, siapa pun yang naik bus sebagai penumpangnya, tanpa pandang bulu, sopir pasti mengantarnya ke tujuan yang diminta setiap penumpangnya itu.
Namun, hal tersebut barusan pernah tak berlaku bagi saya. Memang hal ini dikarenakan oleh kesalahan saya sendiri.
Ceritanya begini. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari Pati ke Pekalongan. Dulu karena sudah terbiasa untuk mengambil perjalanan estafet (Pati-Semarang, Semarang-Pekalongan), alias tidak langsung naik dari Pati ke Pekalongan menggunakan bus jurusan Jakarta misalnya, maka saya pun berhenti di terminal Terboyo (Semarang). Sampai di sana saya masih ingat sekitar pukul setengah sembilan malam.
Saya menunggu kedatangan bus menuju Pekalongan di gerbang terminal. Ini menjadi pilihan saya karena menurut pengalaman para pendahulu saya, kalau mau naik bus biar tidak kena calo sebaiknya menunggu di gerbang seperti yang saya lakukan waktu itu.
Setengah jam berlalu, tak ada satupun bus menuju Pekalongan. Kebanyakan bus yang keluar adalah bus-bus jurusan Yogyakarta atau Solo.
Sejam kemudian, baru ada bus ke Pekalongan. Namun tak saya naiki karena nampak dari luar penumpang penuh bahkan tak sedikit yang berdiri. Saya tidak sedang sok, tapi untuk perjalanan yang menghabiskan waktu tak kurang dari dua setengah jam, saya harus memilih bus yang dapat saya naiki dengan nyaman. Lebih dari itu, saya termasuk orang yang gampang mabuk di perjalanan.
source : wikipedia.org
Tak lama setelah bus penuh sesak itu meninggalkan terminal, muncul bus lain dengan “casing” yang cukup menawan. Warnanya hitam. Saya lupa apa nama Bus itu. Yang jelas, singkatnya ketika ada orang menanyai kemana tujuan saya, saya jawab ke Pekalongan, orang tersebut langsung menyuruhku masuk. Dan alangkah leganya saya melihat interior bus ini. Berkali-kali naik bus dari Semarang ke Pekalongan, saya kira itu bus termewah yang pernah saya naiki.
Saya kemudian mencari tempat duduk. Cukup mudah untuk menemukan posisi favoritku; dekat dengan sopir. Namun namun namun, saya baru tahu ternyata ada bus yang memiliki sekat antara sopir dengan penumpang. Dalam hati saya kecewa tapi sekaligus senang. Kecewa karena gagal duduk dekat dengan sopir (agar bias merasakan sensasi melihat jalanan di depan kaca depan bus terutama ketika ngebut nanti, hehehe). Serta senang karena meski demikian, saya mendapatkan tempat duduk yang keduanya masih kosong sekaligus bukan di jok terbelakang.
Setelah menghempaskan tubuh di atas jok yang, lagi-lagi saya terkesan, begitu empuk dengan jarak jok di depannya cukup dan malah terasa terlalu lebar bagi saya yang baru pertama kali menaikinya ini, saya kemudian didatangi oleh orang yang tadi menanyai tujuan saya.
“Pekalongan?” Tanya si pria bertopi hitam itu.
“Iya, Oom. Berapa?” Jawab saya sekaligus menanyakan ongkosnya.
Nempuluh” Enam puluh ribu maksud pria itu. Saya kaget.
Larang men, Oom? Mudun wae aku, ah.” Saya yang kaget merasa perlu protes karena tak mengir akan semahal ini ongkos tiketnya. Ini saya anggap terlampau mahal karena harga tiket Semarang-Pekalongan waktu itu umumnya masih dua puluh lima ribu untuk bus ber-AC, atau lima belas ribu untuk yang non-AC.
“Ini tujuannya Jakarta, Mas. Makanya tiketnya emang diharga sampai pemberhentian istirahat nanti di Indramayu.” Si pria bertopi hitam mencoba menjelaskan alasan kenapa harganya di atas rata-rata.
“Empat puluh,” Saya masih belum tahu kenapa saya menawar dengan harga segitu. Muncul begitu saja. Mungkin karena saya teringat bahwa ada uang 20.000an sebanyak dua lembar di dompet saya.
Orang itu bukannya menjawab malah ngeloyor pergi begitu saja. Saya bingung dan memerhatikannya hingga ia turun. Dari kaca jendela, kulihat orang itu berbincang dengan orang lain. Lalu, pria kedua yang diajaknya bicara itu mendatangi saya.
“Pekalongan?” Tanya pria kedua. Tubuhnya nampak lebih besar dibanding pria bertopi yang pertama tadi.
“Iya, Oom.” Saya sengaja tak bertanya berapa ongkosnya.
“Lima puluh, yah?” Nadanya santai. Saya hampir menyetujui harga ini mengingat saya sudah ingin merasa santai duduk menikmati perjalanan. Namun, bus tak kunjung jalan. Saya tiba-tiba teringat bahwa, orang-orang ini calo nih, pikir saya. Kondektur kan kalau narik ongkos ya nunggu busnya jalan kan biasa. Ah, iya calo nih, mantap saya dalam hati.
“Tiga puluh lah, Oom. Biasanya ke Pekalongan dua lima, kan?” Ini penawaran saya kemudian.
“Tadi katanya empat puluh?” Jujur saya bingung sekaligus geli mendengar ucapan pria kedua ini yang terdengar berlagak kasar.
“Ini, Oom.” Saya berikan kepadanya dua lembar uang 20.000an.
Tanpa berkata-kata lagi, pria kedua pergi meninggalkan saya. Saya sudah tak lagi memiliki pikiran mengenai besar-kecilnya biaya. Pikiran lebih saya arahkan pada orang-orang rumah, keluargaku. Ah, ya.. Anakmu merindukanmu, Mak.. Pak..
Tiba-tiba datang menghampiri saya pria pertama bertopi hitam tadi. Ia kembali menyapaku dengan tujuan ke mana. Dengan malas kujawab. Lalu saya dibuatnya jengkel dengan permintaannya untuk menambah biaya tiket sebesar 20.000 lagi. Saking kesalnya, saya kemudian berkata,
“Sudahlah saya turun saja. Mana tadi uang empat puluh saya? Saya turun saja.”
Bus perlahan-lahan mulai jalan keluar dari pintu gerbang terminal. Saya kemudian terbantu oleh seorang pria berpakaian serba hitam. Ia menanyai pria bertopi beberapa pertanyaan yang tak terlalu saya hiraukan yang pada akhirnya membuat si pria bertopi turun di dekat pos polisi yang berada di seberang gerbang terminal.
“Mana tiket dari orang tadi?” pria berpakaian serba hitam menanyaiku. Saya segera menyerahkan tiket saya yang ternyata tiket palsu. Pria itu kemudian mengganti tiket saya dengan tiket lain yang berkesan lebih bagus.
“Seharusnya tadi jangan mau bayar kalau sama calo, tuh.” Ucapnya kemudian yang membuat saya ingin sekali teriak, “Lha kowe ket mau ning ngendi wae, nyet??” Namun hal ini tak kulakukan karena bisa-bisa saya malah dilemparkannya keluar dari bus nanti. Iya nanti. Nanti kala bus sudah sampai di Alasroban, Batang. Hih, kan serem.
Saya mengangguk saja sebagai balasan atas “nasihat” pria berpakaian serba hitam alias si kondektur resmi itu.
Beberapa saat kemudian, tau-tau bus sudah memasuki Weleri. Di sebelah saya juga sudah ada orang. Saya yang terbangun dari tidur itu mencoba menyapa orang di sebelahku dengan senyuman. Seorang bapak-bapak tersebut membalasku dengan senyum pula.
Seteguk air yang saya minum kemudian, membawa saya kembali ke alam mimpi. Saya kembali tertidur dan terbangun lagi saat bus melewati…
Dengan tergagap saya mengucek-kucek mata. Beruntunglah saya tidak kebablasan. Bus baru sampai di Tulis, Batang. Karena saya pikir masih ada sekitar setengah jam perjalanan untuk sampai Pekalongan, saya putuskan untuk sekejap saja kembali memejamkan mata.
Lalu…
Bersambung……
Share:

0 comments:

Post a Comment

Contact Us

Name

Email *

Message *