Kumpulan Cerpen (Cerita Pendek) Fiksi dan Non Fiksi Indonesia Serta Informasi Menarik.

Saturday, 12 November 2016

Teh


Pekalongan adalah kota yang sering dikenal dengan Batik. Kota yang memang di setiap sudutnya dapat kita jumpai toko atau lapak yang menjajakan mulai dari kain, seprei, sarung bantal, pakaian jadi, hingga sepatu dan tas yang benar-benar Batik atau pun sekedar bermotif Batik. Kedua hal ini memang beda. Setidaknya beginilah perbedaannya sejauh pengetahuan saya. ‘Benar-benar Batik’ berarti dibuat atau diproses dengan cara dibatik (tulis atau cap), dan ‘sekedar bermotif Batik’ di atas maksudnya kain yang di-print gambar bermotif Batik, baik itu print manual atau menggunakan mesin print.
Di desa saya sendiri, Simbang Wetan, dapat dijumpai rumah-rumah yang menjadi Home Industry Batik. Namun kebanyakan dari mereka adalah pembuat atau pemroduksi printing. Jika mengacu pada dua perbedaan yang sempat saya utarakan di atas tadi, maka sebenarnya mereka bukan memproduksi Batik melainkan memproduksi kain bermotif Batik. Tak semua memang, namun jumlah,--agar lebih mudah saya sebut saja—Batik Printing lebih banyak dibandingkan Batik Tulis atau Cap.
Bagi pembaca tulisan ini yang belum mengetahui secara persis letak perbedaan antara Batik Printing dengan Batik Tulis atau Cap, kalian bisa cek ke toko-toko Batik terdekat di daerah kalian. Atau kalau ingin lebih sederhana, maski menurut saya tetap kurang memuaskan karena tidak menyentuh dan melihatnya secara langsung, maka cari tahu perbedaannya di internet. Saya pastikan sudah ada banyak blogger yang mampu menjelaskannya secara baik dan jelas.
Pada kesempatan kali ini saya tak hendak membicarakan mengenai Batik. Yang ingin saya bicarakan adalah hal lain yang barangkali menurut kalian sangat jauh dari Batik. Yaitu, Teh. Lho?
Kenapa teh? Karena di daerah tempat saya tinggal, teh berada cukup dekat dengan para pengrajin Batik. Tak peduli apakah mereka pengrajin Batik Tulis, Cap atau Printing sekalipun. Begini…
Saya mulai dari rumah saya saja dulu (yang memproduksi Batik Cap dan terkadang juga Tulis serta tak jarang pula memproduksi Printing, tergantung permintaan), di mana dengan mempekerjakan belasan orang, ibu saya selalu menyeduh teh panas setiap pagi sebanyak 3-5 cerek per hari untuk disediakan bagi para pekerja itu. Jika saya hitung berapa jumlah belanja teh ibu saya tiap minggunya (Home Industry seperti di rumah saya ini banyak menggunakan per minggu dalam berbagai hitungan; gaji pekerja, belanja logistik seperti lilin malam, obat pewarna dsb., hingga belanja keperluan untuk pekerja tiap harinya), maka saya temukan angka 7-14 kotak teh per minggunya, yang berarti 1-2 kotak teh setiap hari.
Ini adalah angka untuk tempat saya. Sedangkan di desa saya, ada puluhan rumah lain yang memiliki usaha sama. Dan bisa dibilang dengan angka belasan karyawan di rumah saya ini termasuk yang kecil. Karena ada di antara industri rumahan seperti ini yang memiliki pekerja hinggan 20an bahkan 50an di mana kesemuanya memiliki kebutuhan sama setiap harinya; teh.
Teh yang saya paparkan di atas baru menginjak rumah-rumah produsen Batik (proses pembatikan; tulis, cap atau printing) dan belum saya hitung mereka yang memiliki usaha konveksi yang mana jumlah usaha konveksi juga bisa dibilang tinggi. Karena produsen Batik banyak, maka sudah barang tentu Batik yang akan dijadikan pakaian siap pakai juga jelas perlu dijahit. Di sinilah saya kadang merasa wow. Hehehehe. Maksud saya, ternyata ada banyak usaha rumahan yang ada di lingkungan saya yang sedikit banyak memberi arti bahwa seharusnya angka pengangguran di daerah saya termasuk rendah. Entah kenyataannya bagaimana, lain kali akan coba saya sampaikan.
Selain itu, usaha konveksi untuk pakaian jenis jins juga cukup banyak di daerah saya. Mereka juga sama-sama memiliki kebutuhan tetap berupa teh untuk pekerjanya. Walhasil, teh benar-benar sangat akrab bagi kami yang hidup-tinggal di daerah ini.
Dengan pemaparan terbata-bata saya di atas, saya akhirnya jadi sadar betapa kami yang hidup di lingkungan industri rumahan ini tak pernah lepas dari teh. Setiap hari kami, mulai dari pekerja hingga juragannya, selalu meminum teh. Lantas saya ingin sekali mencari tahu apa manfaat yang terkandung dalam “minuman wajib” kami itu? Serta apa pula bahayanya jika kami tiada henti mengkonsumsi minuman yang berasal dari pucuk daun tanaman teh (di Wikipedia bahasa kerennya “Camellia Sinensis”) tersebut?
Setelah googling ke sana ke mari serta membaca sebuah buku karya Mbak Eti Syahrianty berjudul “I Love Coffee and Tea”, di bawah saya uraikan sedikit mengenai manfaat baik teh serta madharat buruknya.

Manfaat Baik.
Teh yang kabarnya berasal dari negeri Tiongkok ini memiliki kandungan kafein, teobromin, polifenol, vitamin C, E dan K, kalium, magnesium, zat tepung, seng, selenium, tembaga, besi, kalsium, juga asam amino. Zat-zat yang terkandung dalam teh ini, memiliki khasiat seperti menurunkan kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah serta kadar gula darah, mencegah terjadinya batu empedu, membantu kinerja ginjal, serta melarutkan lemak.
https://www.pixabay.com
Kafein dalam teh juga mampu memperlancar sirkulasi darah ke otak. Selain itu juga karena kafein ini, maka dengan meminum teh secara teratur dapat meningkatkan ingatan pada ota kita, kognitif performa, perasaan senang, serta pula meningkatkan mood. 

Teh juga mampu mengurangi risiko kanker, mencegah pertumbuhan kanker, jantung, stroke dan prostat. Kekebalan tubuh kita pun dapat dicegah penurunannya oleh radiasi Ultra Violet yang dianggap bisa menjadi penyebab timbulnya kanker kulit. Dengan demikian teh berarti mampu menurangi risiko kanker kulit.
Sebuah studi di Amerika juga menemukan bahwa teh memiliki khasiat melawan kanker. Hasil studi yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology edisi Juli 1996 yang meneliti 35.000 perempuan pasca-menopause itu dijelaskan bahwa mereka yang mengkonsumsi teh setidaknya 2 cangkir setiap harinya, risiko terkena kanker kandung kemih sebanyak 40%. 28% lebih rendah dibanding mereka yang tidak mengkonsumsi teh; 68%.
Ada pun manfaat lain dari teh adalah bahwa senyawa antioksidan yang terkandung dapat mencegah kerusakan DNA, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, mencegah osteoporosis, tekanan darah tinggi, menurunkan berat badan, serta mampu menyegarkan tubuh.
Madharat Buruk.
Khasiat atau manfaat baik teh bagi tubuh manusia memang cukup banyak. Namun tak berarti bahwa manfaat itu dapat dirasakan oleh setiap orang. Karena sudah barang tentu kondisi tubuh manusia yang tidak semuanya sama. Hal ini juga yang menjadikan teh memiliki batasan tersendiri siapa saja yang sebaiknya tidak mengkonsumsi atau mengurangi konsumsi teh.
Mereka yang sebaiknya tidak terlalu banyak atau berlebihan dalam mengkonsumsi teh adalah orang yang fungsi ginjalnya kurang baik. Hal ini disebabkan penderita fungsi ginjal yang tak dapat menahan kencing akan terganggu dan semakin memberatkan penyakitnya.
Wanita hamil juga sebaiknya mengurangi konsumsi teh. Wanita hamil memerlukan asupan gizi yang bermacam-macam untuk menyuplai kebutuhan metabolisme wanita ini dan janin dalam kandungannya. Terlalu banyak mengkonsumsi teh akan membuat zat tannin dalam teh bersenyawa dengan zat besi dalam makanan yang dikonsumsinya. Hal ini berakibat tidak terserapnya komponen dalam makanan oleh tubuh. Wanita hamil juga dapat terkena anemia serta kekutangan zat besi jika terlalu banyak mengkonsumsi teh.
Pada wanita yang masih menyusui, kafein dalam teh juga bisa mempengaruhi penurunan produksi ASI. Selain juga kafein ini bisa masuk ke dalam tubuh bayi melalui ASI, yang mana hal ini dapat mengakibatkan usus bayi menjadi kejang dan membuat si bayi akan menangis saat merasakannya.
Penderita demam, lemah saraf, sembelit, kekurangan darah, insomnia, hipertensi dan penyakit jantung, sebaiknya juga mengurangi konsumsi teh. Karena dengan mengkonsumsi teh terlalu banyak bagi mereka, akan dapat menyebabkan penyakit semakin memburuk.
Nah, begitulah setidaknya informasi yang (entah berhasil atau gagal) saya rangkum dari berbagai sumber. Seperti tulisan saya mengenai Kopi ini, saya juga meyakini bahwa bagaimanapun kita harus tahu diri dengan tidak terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi apapun termasuk teh. Kemudian yang mengganjal dalam benak saya adalah bagaimana nasib pekerja di rumah saya dan rumah-rumah lain di lingkungan saya yang setiap harinya disediakan teh oleh tuan rumahnya dengan jumlah cukup untuk meminum 3-5 cangkir?
Saya tak mampu menjawab pertanyaan yang mengganjal ini sendirian. Maka dari itu, saya berharap kalian yang sempat membaca tulisan ini supaya sudi meluangkan waktunya untuk membantu saya menemukan jawabannya.
Terimakasih, dan…
Ngetuh, yuk!
Sumber :
Wikipedia.org 
I Love Coffee and Tea; Eti Syahrianty


Share:

0 comments:

Post a Comment

Contact Us

Name

Email *

Message *