Kumpulan Cerpen (Cerita Pendek) Fiksi dan Non Fiksi Indonesia Serta Informasi Menarik.

Friday, 13 January 2017

Belajar Berbahasa Indonesia dengan Benar



wikimedia.org

Menjaga tata bahasa yang benar adalah sebuah keharusan bagi semua pihak, semua warga negara Indonesia, terutama yang berada dalam lingkaran media-media. Ejaan Yang Disempurnakan atau disingkat EYD dalam tata berbahasa Indonesia harus diperhatikan secara serius demi pelestarian bahasa Indonesia.

Beberapa hari ke belakang, saya agak keranjingan mengkritik teman-teman saya yang sering menulis dengan bahasa penulisan semrawut. Barangkali kalian pun sering menemukan teman kalian menulis di dinding akun facebook-nya dengan penulisan yang layak dianggap salah jika mengacu pada EYD.

Namun, pernahkah kalian menegur kesalahan itu? Jika pernah, bagaimana mereka yang kalian tegur itu memberikan respon?

Terakhir kali saya menegur seseorang yang sebetulnya tak saya kenali baik di dunia nyata maupun maya. Ia, sebut saja Zamrud, menuliskan sebuah pertanyaan yang di-posting ke sebuah grup facebook di mana saya termasuk salah satu member alias anggota grup ini.

Zamrud kala itu bertanya, meminta pendapat anggota grup untuk menilai tiga orang tokoh agama, sekaligus dalam unggahannya yang disertai foto wajah ketiga tokoh itu, ia sendiri memulai penilaiannya atas tiga tokoh tersebut.

Sewaktu membaca kiriman Zamrud di grup tersebut saya mengernyitkan dahi. Ini bukan lantaran penilaian Zamrud atas tiga tokoh agama itu sangat berbau kalimat-kalimat negatif serta menuai kontroversi, yang seharusnya postingan semacam itu dihindari, melainkan betapa Zamrud saat itu menulis dengan banyak sekali kata-kata yang sulit dipahami sebab selain disingkat-singkat juga banyak peletakan awalan serta akhiran kata yang tidak sesuai kaidah tata bahasa kita.

Sebagai orang yang tengah keranjingan mengkritik tata bahasa penulisan, saat itu saya pun mempertanyakan setiap detail kata per kata yang ditulis oleh Zamrud. Dalam pertanyaan itu, saya ajukan padanya agar ia mengoreksi terlebih dahulu penulisan tiap kata-katanya yang menurut saya banyak sekali terdapat kesalahan.

Seakan tak terima, saya malah dianggap "orang yang terlalu serius" karena menegur demikian. Zamrud, saya kira dibantu oleh akun anon miliknya yang lain, menganggap saya tak perlu mengkritik tata bahasa yang dipakai karena yang ingin ia ketahui adalah penilaian orang lain atas tiga tokoh tadi. Tentang bagaimana bahasa tulisan yang ia pakai, ia anggap tak penting. Kecuali, katanya, jika kita mau melamar kerja.

Tak mau kalah, saya pun membalas dengan lebih keras agar ia segera membenahi penulisannya yang sangat kacau itu. Bahkan saking kacaunya, bahasa "alay" ala remaja-remaja gen-Z pun kalah kacau. Saya kembali menyuruhnya agar ia mengedit terlebih dahulu kesalahan-kesalahan berbahasanya baru kemudian saya komentari perihal tiga tokoh yang ia pertanyakan.

Jika semuanya saya ceritakan lebih detail, barangkali akan menjadi tulisan yang teramat panjang di sini. Pada intinya, Zamrud ngotot bahwa penulisan kata yang sesuai Ejaan YangDisempurnakan (EYD) adalah tidak penting. Sama sekali tak penting selama penulisan itu bukan di forum formal atau resmi.

Sejatinya saya agak sepakat dengan anggapan semacam ini. Namun meski begitu, EYD harus dijaga di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi bagaimana pun.

Saya yakin bahwa ketika saya menuliskan kalimat pendek "di tempat, kan?" dengan kalimat yang sama namun beda sedikit "ditempatkan?" maka saya telah menuliskan dua kalimat singkat yang tentu maknanya berbeda meski keduanya terdiri dari tiga kata yang sama persis.

Penggunaan bahasa yang benar, bagi saya sangatlah penting. Sangat penting karena tentu dari penggunaan bahasa yang benar, kita dapat belajar bagaimana sebuah "..berbahasa satu, bahasa Indonesia." dapat secara nyata kita aplikasikan. Bahasa Indonesia memiliki peraturan dalam penggunaannya dalam bentuk tulisan. Di sini, jika bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, mau siapa lagi?

Kata "mar-ah" (perempuan), dalam bahasa arab sama persis hurufnya dengan kata "mir-ah".yang berarti kaca cermin. Kedua kata ini jika tidak diberi harakat (tanda baca dalam tulisan bahasa arab), akan sulit bagi awam untuk dapat membacanya apakah "mar-ah" atau "mir-ah".

Dalam bahasa arab, ada namanya ilmu Nahwu-Shorof yang mempelajari gramatikal kalimat bahasa tersebut. Sangat sulit, atau malah mustahil bagi orang 'ajam (non-arab) untuk dapat memahami bahasa arab dengan sepenuhnya benar tanpa mempelajari ilmu Nahwu-Shorof.

Apakah orang arab memakai ilmu itu dalam bahasa kehidupan mereka sehari-hari? Ya saya tak tahu. Yang saya tahu, kakak perempuan saya yang dulu pernah bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Saudi Arabia, pernah bercerita bahwa pengalamannya bersekolah di madrasah di mana kakak saya belajar Nahwu-Shorof, sangat berguna di sana.

"Majikan saya dulu sering memuji saya hanya lantaran saya mampu menyebut 'kitabain' untuk menunjuk dua buah buku. Berbeda dengan teman sekerjanya asal Filipina yang ketika menyebut hal tersebut dengan 'itsnain kitab'. Teman saya itu sering diketawakan oleh majikan kami." Demikian kenang kakak saya mengenai pengalamannya menerapkan ilmu tata bahasa arab di negeri arab. Meski pun majikan itu memahami maksud teman kakak saya, tapi pelafalan yang dipakai kakak saya itu adalah yang paling absah.

Dengan demikian, maka bagi saya mengaplikasikan pelafalan yang benar sesuai EYD adalah sebuah keharusan yang wajib dilakukan oleh kita semua sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena dengan memerhatikan letak benar-salah kita dalam berbahasa, kita berarti sedang menumbuhkan cinta yang mendalam terhadap bangsa kita.
Share:

4 comments:

  1. Jaman sekarang banyak bahasa alay

    ReplyDelete
  2. Iya bener, gan.
    Tapi kita harus mulai menguranginya pelan-pelan.

    ReplyDelete
  3. Iya, gan perlu juga tuh. Biar sejak kecil anak-anak sudah mulai dibiasakan menggunakan tata bahasa yang benar.
    Btw, tengs sudah mampir, gan.

    ReplyDelete

Contact Us

Name

Email *

Message *