Kumpulan Cerpen (Cerita Pendek) Fiksi dan Non Fiksi Indonesia Serta Informasi Menarik.

Monday, 27 February 2017

Pengalaman Ijab-Kabul

Ini adalah cerita menarik tentang pengalaman saya hampir melaksanakan ijab-qabul dalam sebuah perhelatan acara Walimatul 'Arsy. Bagaimanakah kisah tersebut berjalan? Simak selengkapnya di bawah ini.
ilustrasi. Sumber: Konsultasi Syari'ah
Aku melangkahkan kedua kakiku dengan setenang mungkin. Berjalan dengan tubuh setegap yang kubisa. Di depanku, juga dengan berjalan kaki, seorang Kyai yang paling kusegani di dunia, atau setidaknya di Indonesia. Sedangkan di kiri dan kananku, masing-masing menggandeng tanganku dan berjalan seiring langkahku. Keduanya adalah bagian dari kawan-kawan terbaikku. Aku tersenyum kala tujuanku semakin dekat. Kusenyumi pula orang-orang yang duduk berderet, berbaris rapi di atas kursi-kursi plastik yang memang sengaja ditata sedemikian rapi di pelataran rumah yang kutuju.
Alunan salawat menyambut kedatanganku, kedatangan kami semua. Aku sejenak teringat bahwa di belakang kami bertiga, ada sekitar 50 orang lain yang tak lain dan tak bukan adalah teman, kerabat, dan saudara-saudaraku. Aku menoleh ke belakang untuk sekedar memberi mereka senyuman dan mereka pun membalas senyumanku disertai beberapa celetukan yang menyenangkanku.
Saat kedua kakiku mulai menjejakkan teras rumah yang kutuju, saat itulah secara tiba-tiba aku mulai merasa gemetar. Entah kenapa. Kubaca dalam hati apa yang mampu kubaca untuk mengurangi gemetarku. Kugenggam erat tangan dua kawan yang mengapit tubuh semenjak tadi. Mereka merasakan genggamanku ini yang menjadikan keduanya menoleh ke arahku untuk membisiki kalimat agar aku tenang. Ini hari bahagiaku, kata salah satu dari mereka, aku tak perlu gemetar menghadapi kebahagiaan.
Setelan jas dan celana berwarna krem yang kupakai mendadak terasa panas. Aku harus menguasai diriku segera. Kutarik nafas dalam-dalam, kukeluarkan ia dengan kalimat puja-puji atas Tuhanku. Berhasil, berangsur-angsur aku kembali mencapai ketenanganku kala kakiku sudah kian dekat dengan seorang lelaki paruh baya yang menyambut kami di depan pintu rumah itu.
Aku bersalaman dengan lelaki paruh baya ini, kucium tangannya saat bersalaman. Ada barangkali 3-4 kali tangan beliau menepuk-nepuk pundakku. Aku seakan tak mampu berbicara apa pun, maka aku hanya tersenyum saja. Kemudian aku dituntun oleh lelaki setengah baya ini menuju sebuah ruangan yang cukup lebar. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah meja kecil, dan sebuah bantal di masing-masing sisi depan belakangnya. Aku lupa, berada di mana kedua kawanku yang tadi menggandengku.
Di salah satu bantal itu aku disuruh duduk oleh lelaki paruh baya tadi. Saat aku mendudukinya, Kyai yang tadi berjalan di belakangku, ikut duduk di seberang. Kami berhadap-hadapan dengan pemisah meja kecil. Lantunan salawat dari luar, terdengar baru berhenti sesaat kemudian. Secara mendadak, aku merasa gemetar seperti tadi. Entahlah, aku merasa menjadi pusat perhatian seluruh manusia yang ada di sekelilingku. Namun gemetarku tak menjadi-jadi kala teringat bahwa orang-orang di sekelilingku ini nyatanya adalah teman-temanku sendiri.
Entah suara apa saja yang kemudian kudengar, aku tak banyak mengingatnya selain seorang, entah siapa namanya, membacakan susunan acara pagi hari itu. Beberapa orang secara berurutan ada yang membaca kalamullah dengan sangat tartil dan merdu sekali suaranya. Lalu ada yang membaca khotbah. Sampai akhirnya, aku tak begitu mengingatnya secara detail karena yang kurasakan, tiba-tiba Kyai yang kini duduk di hadapanku, menjabat tanganku. Jabatan tangan seperti bersalaman.
Lama sekali jabatan tangan sang Kyai ini. Dari bibirnya keluar kalimat berbahasa arab yang tak banyak kuketahui artinya, atau malah tak sedikit pun kuketahui. Dari kalimat-kalimatnya berbahasa arab itu, aku menangkap kemudian beliau mengucapkan,
"Ya, Khalid Muhammad, hadza! Zawwajtuka wa ankahtuka makhtubata..."

"Bocah dikon tuku kelopo kok ora tangi-tangi!" Suara ibuku tiba-tiba mengagetkanku. Aku terbangun dari tidur pagiku.

Ah, mimpi!

Aku baru percaya bahwa sebaiknya aku memang tidak tidur usai Subuh. Kini, aku percaya bahwa tidur di waktu pagi memang tidak baik.

Sekian.
Silakan kunjungi pula blog lain kami yang khusus mengulas tentang Batik melalui tautan berikut ini.

Salam,
Em.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Contact Us

Name

Email *

Message *