Kumpulan Cerpen (Cerita Pendek) Fiksi dan Non Fiksi Indonesia Serta Informasi Menarik.

Saturday, 25 March 2017

Menjadi Gravitasi Dunia dengan Peduli Sampah

Setiap partikel yang mempunyai massa, maka partikel tersebut dianggap memiliki gaya tarik. Secara umum, pengertian ini disebut sebagai Gravitasi. Partikel yang paling dekat untuk mencontohkan adanya gravitasi ini adalah bumi. Di Wikipedia, 1 massa bumi sama dengan 5,9742 x 1024 kilogram. Bumi menjadi satu planet terrestrial (planet-planet terdekat dengan Matahari) yang memiliki massa paling tinggi di antara tiga planet lain (Merkurius, Venus dan Mars).
Gambar dari www.nyoozee.com
Pada intinya, gravitasi merupakan gaya tarik-menarik oleh tiap partikel di semesta. Maka dari itu, manusia pun memiliki gaya gravitasinya sendiri. Dan kali ini, saya akan menuliskan gaya tarik yang dimiliki oleh manusia tersebut. Cerita yang akan saya sampaikan bukan merupakan sebuah cerita mengenai gravitasi secara umum, namun cerita ini lebih pada pengertian “gaya tarik manusia dalam kehidupannya”.

Menjadi Gravitasi Sebab Sampah.
Ada satu malam di mana saya ikut meramaikan sebuah acara kirab peringatan hari besar di Indonesia. Bukan hari kemerdekaan atau hari raya, melainkan Hari Santri Nasional yang pada waktu itu merupakan tahun peringatan pertama, 22 Oktober 2015.
 
Saya sejatinya tak tahu kalau di desa saya akan ada kirab peringatan Hari Santri Nasional tersebut. Saya bahkan baru diberitahu oleh salah seorang panitia peringatan pada sore hari sebelum acara kirab diadakan pada malam harinya. Walhasil, saya tak memiliki kesiapan layaknya peserta lain yang kemudian saya ketahui, mereka benar-benar mempersiapkan diri beserta rombongannya (tiap rombongan mewakili nama musala di desa saya).
 
Usai maghrib, saya segera mencari tahu bagaimana persiapan orang-orang yang akan ikut memeriahkan acara kirab Hari Santri tersebut. Dan luar biasa rupanya, orang-orang sedesa saya, sebagian besar benar-benar antusias mengikuti kirab ini. Saya jadi minder, dan kian minder manakala menyadari bahwa musala dekat rumah saya yang tergolong acuh terhadap acara-acara umum seperti itu, tidak melakukan rapat persiapan apapun untuk sekadar mengajukan peserta kirab.
 
Jelang Isya, saya yang telah melihat bagaimana persiapan orang-orang, merasa begitu ingin ikut memeriahkan hari spesial bagi kaum santri senusantara ini. Akhirnya, tepat usai menjalankan ibadah salat Isya, saya mendapat sebuah inspirasi yang cukup berani sekaligus edan. Saya akan ikut, sendirian mewakili nama musala dekat rumah saya, dan akan menggendong karung untuk memunguti sampah-sampah yang sudah pasti berserakan sesaat dan usai kirab berlangsung.
 
Pukul setengah delapan malam, saya mendengar suara-suara trebang, rebana, dan lain-lain mulai bersahut-sahutan. Suara-suara itu berasal dari tiap-tiap musala yang hendak memberangkatkan rombongan mereka. Saya segera membeli karung di toko dekat rumah, dan segera mendesainnya sedemikian rupa sehingga dapat saya sandang di punggung saya. Sebelum saya “pakai” karung tersebut layaknya anak-anak sekolah menyandang ransel mereka, saya sempatkan menuliskan sebuah kalimat pada karung itu yang berbunyi: DESAKU BEBAS SAMPAH!
 
Pukul 8 kurang sepuluh menit, saya bergegas menuju jalan depan kantor balai desa. Di sanalah iring-iringan peserta kirab akan berkumpul untuk mengawali perjalanan kirab Hari Santri ini. Saya takjub melihat kerumunan warga desa saya yang begitu ramai ini. Ada rombongan yang membawa obor dengan pakaian sarung, baju koko dan peci, ada pula yang merias tubuh dan wajah mereka dengan aneka macam.
 
Saya masih duduk di sebuah warung, menikmati sebotol air dingin sambil memeriksa beberapa hal yang hendak saya bawa. Orang-orang yang melihatku menggendong karung, agak heran dan seakan-akan bertanya, “nih orang ngapain deh?”
 
Akhirnya, iring-iringan peserta kirab pun mulai merangkak jalan. Saya masih duduk di depan warung. Saat ekor rombongan ratusan manusia itu sudah nampak, saya mulai berdiri dan ikut berjalan kaki di bagian paling belakang. Kemudian, mulailah saya memunguti belas-gelas plastik yang dilemparkan begitu saja oleh peserta kirab di depan saya. Saya punguti sampah-sampah tersebut satu persatu dan saya masukkan ke dalam karung di punggung saya. Tentu, saya buang terlebih dahulu sisa air yang masih ada di dalam gelas-gelas dan botol plastik tersebut agar tak berat di punggung saya.
 
Di pertengahan jalan, ada seorang remaja yang kemudian ikut memunguti sampah. Ia membantu saya. Saya senang. Kami tersenyum dan terus memunguti sampah-sampah para peserta kirab. Sampai di sepertiga akhir rute perjalanan kirab tersebut, saya berhasil menarik lima orang selain remaja tadi, dua di antaranya membawa karung sendiri yang entah dari mana mereka berdua mendapatkannya. Hingga akhirnya kami, menjadi tim pemungut sampah dalam acara kirab Hari Santri Nasional tersebut. Di antara saya dan enam orang yang mengikuti apa yang saya lakukan ini, saya merasa paling bahagia karena merasa telah berhasil “mengajak orang tersebut untuk peduli terhadap kebersihan”.
 
Pada akhir acara, saya mengucapkan terimakasih kepada enam orang tadi. Dua di antara mereka meminta izin padaku untuk menjual sampah-sampah plastic yang berhasil kita kumpulkan. Saya pun dengan senang hati mempersilakannya.
 
Pada malam itu, saya merasa bahagia telah menjadi gravitasi yang memiliki gaya tarik sehingga orang lain mau peduli terhadap sampah. Dan perasaan senang saya ini kemudian memuncak lantaran pada tahun berikutnya, 2016, pada acara yang sama, pihak panitia yang diprakarsai mulanya oleh salah seorang yang tahun sebelumnya memunguti sampah bersamaku, menyediakan sebuah kendaraan roda tiga khusus untuk memunguti sampah.
 
Begitulah kisah saya menjadi gravitasi di sekeliling dunia saya. Saya berharap ada inisiatif-inisiatif lain oleh para pemuda bangsa Indonesia untuk menjadi gravitasi di lingkungannya. Gravitasi yang memilki gaya tarik akan suatu kebaikan, sekecil apapun kebaikan.
 
Barangkali untuk memunculkan lagi pembaharu-pembaharu yang menjadi gravitasi bagi lingkungannya, perlu adanya share oleh mereka yang lebih dulu menjadi gravitasi di dunia mereka. Mereka dapat memanfaatkan kemajuan teknologi seperti yang diusung oleh Luna Smartphone. Para pendahulu yang telah menjadi gravitasi di dunia mereka semoga dapat membagikan pengalamannya melalui foto-foto, video, atau tulisan seperti yang saya lakukan ini.
 
Mereka yang sudah lebih dulu menjadi gravitasi di masing-masing dunia mereka, dapat membagikan foto-foto kegiatan mereka dengan menggunakan ponsel cerdas Luna Indonesia. Ponsel yang, menurut fotografer populer Arbain Rambey, memiliki fitur kamera setara iPhone 6s ini layak dijadikan pilihan untuk men-share foto-foto kegiatan mereka saat menjadi gravitasi di lingkungannya, di dunianya.
 
Seperti kita ketahui, ponsel cerdas Luna ini memang terkenal memiliki spesifikasi yang sangat bagus termasuk bagian body-nya yang tahan banting. Seperti Luna, kita sebagai manusia, saat ingin menjadi gravitasi di dunia kita, harus pula tahan banting terhadap segala hal yang merintangi kita untuk berbuat baik sendirian.
 
Sekian, selamat menjadi gravitasi di dunia kalian!

#BeTheGravity #SmartphoneLUNA
http://luna.id/
#SmartphoneLUNA

Share:

26 comments:

  1. keren artikelnya gan..
    sangat bermanfaat..... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir, gan...

      Delete
  2. Intinya sih kembali lagi ke diri, bahwa kitalah yang bisa membersihkan sampah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibersihkan dan dipedulikan, kak.. Harus belajar tidak membuang sembarangan betul..

      Delete
  3. Intinya saling mengingatkan kepada semua orang agar tidak buang sampah sembarangan jadi mulai dari diri sendiri dulu sebelum mengingatkan kepada orang lain , artikel nya bagus gan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Sodara.. Diri sendiri kudu membiasakan diri menempatkan sampah pada tempat paling tepat. Lalu juga belajar menularkan kebiasaan diri sendiri ini ke orang lain..
      Tengs udah mampir..

      Delete
  4. Waah... keren yah... cameranya kayak camera iPhone 6s. Good luck ya lomba nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wheheehe.. Keren mana sama yang tentang Menjadi Guru, Menjadi Blogger, Menjadi Gravitasi? Khkhkhkhkk..
      Tengs. Semoga bang Mirwan juga! :D

      Delete
  5. kirain bahas lingkungan bersih sampah, ternyata luna smartphone heheh xD, nice gan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya sih emang mau bahas Lingkungan Bersih Sampah.. Tapi biar lebih oke, Luna juga kebahas walau cuman dikit.. Hehehehehhh..

      Delete
  6. kebersihan sebagian dari iman.
    ayo cintai kebersihan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cintai keluarga juga, kak.. Biar jadi soleh/solehah. :D

      Delete
  7. wih keren banget yah smartphone luna nya.. jadi ketipu deh dari judul yang agan tulis..hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe.. Tapi enggak berniat menipu kok, gan.. Serius. Khkhkhkhkkk..

      Delete
  8. Wah, Author Pekalongan juga? Saya juga Pekalongan nih. Mari ngopi bersama.. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya Batang, kak.. Hehehe.. Biasa ngopi kita, ayuk aja kalau mau ikutan.. Ehe..
      Kak Pekalongannya mana emangnya?

      Delete
  9. wihh keren nih informasi nya penuh motifasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah enggak "penuh typo". :))
      Blog ente lebih keren, mz.. Tempat belajar banyak soal internet.. :D

      Delete
  10. Masalah sampah bisa teratasi dengan mudah kalo pabrik plastik ditutup :V trus ganti pembungkus pake daun. wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, entar saya bikin bom nuklir buat hancurin pabrik-pabrik plastik. Biar entar jadi tragedi kayak di Khystym, Rusia. :)))

      Delete
  11. subhanallah mulianya..., ini bagus utk di latih kpd saudara kita:V

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe.. Terimakasih. Semoga cukup menginspirasi dan membuat kita mau bergerak semampu kita di atas rel kebaikan.

      Delete
  12. Benar.. Sampah merupakan masalah terbesar yang belum bisa diatasi, harus ada kesadaran individu untuk menjaga kebersihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya, ia bukan masalah terbesar. Tapi salah satu masalah besar di manapun. Dan di Indonesia, sampah masih belum ditangani secara serius oleh pemerintah. Lihatlah, bahwa yang perhatian terhadap sampah, seringkali paling cuman LSM dan jarang sekali instansi pemerintah ikut menyentuhnya. Maka dari itu, seharusnya kita semua yang merasa memiliki sampah, harus memedulikannya walaupun sendirian. Percaya saja, pasti ada yang tertulari.

      Delete
  13. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, dengan ringan hati komentar ini saya hapus karena jauh dari relevan.

      Delete

Contact Us

Name

Email *

Message *